Era digital memang punya sihir tersendiri. Kalau dulu orang tua kita harus bersiap rapi, memanaskan mesin kendaraan, lalu berjibaku dengan macetnya ibu kota hanya untuk mencari sebotol suplemen herbal, sekarang dunianya sudah berbeda. Cukup dengan daster atau kaos oblong sambil selonjoran di sofa, jempol kita bisa menjelajahi seisi Jakarta hanya lewat layar ponsel..
Saya adalah salah satu “korban” sekaligus penikmat kemudahan ini. Bagi saya, momen paling meditatif adalah saat menelusuri katalog toko online, membandingkan harga, dan tentu saja, menantikan suara klakson motor di depan pagar yang berteriak, “Pakeeet!” Itulah melodi paling merdu di telinga para pemuja belanja daring.
Namun, beberapa waktu lalu, pengalaman belanja rutin saya berubah menjadi sebuah eksperimen kecil yang cukup mendebarkan. Semuanya bermula saat stok obat-obatan herbal di rumah mulai menipis. Sebagai orang yang cukup disiplin soal kesehatan, saya langsung membuka Tokopedia, mencari toko langganan di kawasan Jakarta Timur untuk dikirim ke rumah saya di Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Baca Juga : Pengalaman Transfer Euro Dengan Octo Mobile
Godaan Hijau yang Berbeda

Saat tiba di halaman pembayaran, mata saya yang biasanya langsung mengklik opsi instant courier tiba-tiba terpaku. Ada sebuah nama baru yang menyelinap di antara dominasi hijau-hijau raksasa (GrabExpress dan Go-Send). Namanya Anteraja.
Jujur saja, saat itu Anteraja masih terasa seperti “anak baru” di kelas yang penuh dengan murid-murid senior. Yang paling membuat saya terbelalak bukan sekadar logo pink fanta-nya yang mencolok, melainkan angka yang tertera di sebelah tarifnya.
“Hah, serius cuma Rp15.000?” batin saya.
Coba bayangkan, jarak Jakarta Timur ke Jagakarsa itu lumayan menguras bensin dan kesabaran kalau ditempuh sendiri. Biasanya, layanan Same Day kompetitor berada di kisaran angka yang lebih tinggi, apalagi kalau jam sibuk. Tapi Anteraja menawarkan tarif flat Rp15.000 untuk berat sampai 5 kilogram. Ini bukan lagi soal murah, tapi rasanya terlalu indah untuk jadi kenyataan (too good to be true).
Rasa skeptis saya muncul. Sebagai konsumen yang sudah kenyang dengan asam garam belanja online, saya mulai bertanya-tanya: Apakah ini cuma promo bakar uang sesaat? Atau jangan-jangan, paket saya bakal “dianter aja” tapi entah kapan sampainya? Namun, rasa penasaran akhirnya menang. Saya memutuskan untuk menjadikan pesanan obat herbal ini sebagai “kelinci percobaan”. Klik! Layanan Anteraja Same Day resmi saya pilih.
Menanti dalam Ketidakpastian
Jam menunjukkan pukul satu siang saat pesanan saya terkonfirmasi. Dalam bayangan saya, layanan same day seharusnya bekerja seperti estafet cepat. Kurir menjemput, kurir mengantar, selesai. Namun, seiring berjalannya waktu, matahari mulai tergelincir ke arah barat, dan status di aplikasi masih saja bergeming.
Pukul 17.00 WIB, suasana mulai agak suram. Langit Jagakarsa mulai menggelap, dan paket saya belum juga menampakkan batang hidungnya. Di sini mental “ikhlas” saya mulai diuji. “Ya sudahlah,” pikir saya waktu itu, “mungkin tarif murah memang bayarannya adalah kesabaran ekstra. Paling besok pagi baru sampai.”
Saya pun berhenti mengecek aplikasi dan mulai beralih ke aktivitas lain. Namun, kejutan sebenarnya justru terjadi saat saya sudah nyaris melupakan paket tersebut.
Tamu Tak Terduga di Jam Sembilan Malam
Pukul 21.00 WIB. Saat sebagian besar tetangga sudah menutup pagar dan bersiap tidur, ponsel saya bergetar. Sebuah nomor asing masuk. Ternyata itu adalah kurir Anteraja.
“Pak, posisi rumahnya sebelah mana ya? Saya sudah di sekitar lokasi,” suara di ujung telepon terdengar sedikit kelelahan namun tetap sopan.
Wah, saya kaget sekaligus kagum. Ternyata mereka benar-benar memegang janji “Same Day”, meski itu artinya harus mengantar paket hingga larut malam. Tak lama kemudian, seorang bapak kurir dengan motornya muncul di depan pagar. Setelah serah terima paket yang masih rapi dan aman, saya tak tahan untuk tidak bertanya sedikit.
“Pak, kok malam banget? Memang alurnya bagaimana sih kalau Anteraja?” tanya saya penasaran.
Si Bapak kurir tersenyum ramah dan mulai bercerita. Dari sinilah saya mengerti mengapa layanan ini bisa begitu murah namun terasa lebih lambat dibanding kurir instan ojek online.
Rahasia di Balik Operasional Anteraja

Ternyata, strategi Anteraja berbeda total dengan Go-Send atau GrabExpress yang menggunakan sistem point-to-point (satu kurir mengambil satu paket dan langsung mengantar ke tujuan). Anteraja menggunakan sistem “Jemput Bola” yang terintegrasi.
Begini alurnya menurut cerita si Bapak:
- Kurir Penjemput (Pickup): Ada tim khusus yang tugasnya hanya keliling mengambil paket dari para seller. Jadi, satu kurir bisa mengambil puluhan paket dari berbagai toko sekaligus.
- Sortir di Hub: Paket-paket tersebut tidak langsung dibawa ke rumah pembeli, melainkan dikumpulkan dulu di sebuah gudang kecil atau Hub pengumpulan.
- Distribusi Antar-Hub: Dari Hub asal (misal Jakarta Timur), paket dikirim ke Hub terdekat dengan lokasi tujuan (Jakarta Selatan).
- Kurir Pengantar (Last Mile): Nah, barulah dari Hub tujuan, ada kurir lain lagi (seperti Bapak yang menelepon saya tadi) yang bertugas menyebarkan paket-paket tersebut ke rumah-rumah pelanggan.
Inilah alasan mengapa kurir yang mengambil paket dan yang mengantar paket dipastikan adalah orang yang berbeda. Sistem ini jauh lebih efisien secara biaya bagi perusahaan karena kurir bergerak secara massal, bukan satu-satu. Itulah rahasia mengapa mereka bisa mematok harga Rp15.000 yang sangat kompetitif.
Update 2025: Bagaimana Kondisinya Sekarang?

Fast forward ke tahun 2025. Dunia logistik sudah semakin dewasa, dan Anteraja bukan lagi pemain baru. Banyak yang berubah sejak eksperimen pertama saya tahun 2020 lalu. Jika dulu tarifnya Rp15.000, sekarang berdasarkan pantauan terbaru saya di Tokopedia per Mei 2025, tarif Same Day sudah mengalami penyesuaian menjadi sekitar Rp22.500.
Pilihan di menu Tokopedia pun kini lebih simpel. Tidak ada lagi kerumunan nama kurir yang membingungkan. Biasanya hanya tersedia pilihan “Same Day” atau “Same Day 8 Jam”. Meskipun harganya naik, layanan ini tetap menjadi jalan tengah yang manis bagi kita yang ingin paket cepat sampai tanpa harus membayar ongkos Instant yang kadang bisa seharga seporsi makan siang di mal.
Cakupan layanannya pun sudah meluas. Dulu mungkin hanya Jabodetabek, tapi sekarang teman-teman di Medan dan Bandung sudah bisa menikmati layanan serupa. Sayangnya, memang belum semua seller mengaktifkan fitur ini. Beberapa toko masih setia dengan metode lama, mungkin karena lokasi mereka yang jauh dari jangkauan Hub atau alasan operasional lainnya.
Kesimpulan: Untuk Siapa Layanan Ini?
Setelah mencoba dan memahami “jeroan” cara kerjanya, saya bisa menarik kesimpulan. Layanan Anteraja Same Day ini adalah sahabat terbaik bagi kamu yang:
- Sabar tapi Butuh Cepat: kamu ingin barang sampai hari ini, tapi tidak masalah jika sampainya malam hari atau butuh waktu 6-8 jam.
- Pemburu Efisiensi: Ingin ongkir murah (hampir setara reguler) tapi performa jauh di atas reguler.
- Pengiriman Barang Non-Urgent: Cocok untuk stok herbal, perlengkapan mandi, atau buku. Tapi kalau kamu memesan makanan panas atau es krim, saran saya tetap gunakan Instant Courier.
Eksperimen malam itu memberikan saya pelajaran berharga: bahwa di balik murahnya biaya pengiriman, ada sistem logistik yang kompleks dan kerja keras para kurir yang mungkin baru sampai di rumah saat kita sudah terlelap.
Jadi, bagi kamu yang sedang menimbang-nimbang saat checkout di Tokopedia, jangan ragu untuk mencoba. Siapkan saja kesabaran ekstra dan jangan lupa berikan apresiasi (atau sekadar segelas air mineral dingin) jika Bapak Kurirnya sampai di depan rumah saat malam hari.
Siapa di sini yang punya pengalaman serupa?
Apakah paket kamu sampai lebih cepat atau justru punya cerita unik lainnya dengan kurir Anteraja? Tulis di kolom komentar ya!
